Nuklir Iran Siap Dipublikasikan
TEHERAN, MINGGU - Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad berjanji akan memublikasikan secara bertahap perkembangan
program nuklir Iran dalam dua bulan mendatang. Namun, Ahmadinejad tetap menolak untuk menghentikan aktivitas pengayaan uranium.
Di hadapan ratusan ribu warga yang memperingati 28 tahun Revolusi Islam Iran, Minggu (11/2), Ahmadinejad menyatakan
akan membuat pengumuman besar tentang kemajuan Iran pada 9 April.
"Mulai saat ini hingga 9 April, Anda akan sering mendengar tentang kemajuan besar yang dicapai bangsa Iran
dan perkembangan di sektor industri, pertanian dan terutama energi nuklir," katanya.
Ahmadinejad juga menekankan bahwa Iran tidak akan menyerah pada keinginan Barat untuk menghentikan program
nuklir. "Jika Anda bersedia untuk bernegosiasi, mengapa Anda tetap menginginkan penghentian (program nuklir)?" ujarnya.
"Jika kami menghentikan aktivitas nuklir, lalu apa yang akan kita bicarakan? Mengapa pembangkit nuklir Anda
bisa bekerja 24 jam sehari, tetapi Iran dipaksa untuk mematikannya?" kata Ahmadinejad.
Dia menambahkan, Iran siap bekerja sama tetapi dalam kondisi yang adil. Iran juga menyatakan tetap bekerja
sama dengan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), walaupun parlemen Iran telah memberikan mandat kepada Pemerintah Iran
untuk mengurangi kerja sama dengan lembaga tersebut.
"Kami bersedia mengikuti peraturan," ujar Ahmadinejad, merujuk pada Traktat Nonproliferasi dan menegaskan
Iran tidak akan menarik diri dari traktat tersebut.
Dukungan luas
Ratusan ribu penduduk Iran, Minggu, turun ke jalan-jalan untuk memperingati 28 tahun Revolusi Islam Iran.
Aksi massa tersebut dipandang sebagai sebuah referendum nasional atas program nuklir Iran.
Di ibu kota Teheran, massa menyerukan slogan-slogan untuk mendukung aktivitas nuklir Iran. Mereka mengatakan,
"Energi nuklir adalah hak kita", atau "Matilah Amerika".
Sebuah poster bergambar pemimpin besar Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memuat tulisan "Mencapai pengetahuan
nuklir sendiri merupakan sebuah gerakan mengukir sejarah dan membangun peradaban". Dalam sebuah baliho besar bergambar Ahmadinejad,
tertulis kata-kata, "Rakyat Iran akan mempertahankan hak nuklirnya dengan segenap kekuatan".
Kemeriahan sangat terasa dalam peringatan itu. Anak-anak memegang balon berhiaskan slogan revolusi, "Kebebasan,
kemerdekaan, dan Republik Islam" serta "Energi nuklir adalah hak yang tidak dapat disangkal".
Para pengunjuk rasa membawa spanduk-spanduk berisi berbagai pernyataan Ahmadinejad, menunjukkan aksi itu merupakan
respons Iran atas sanksi Dewan Keamanan PBB yang dianggap ilegal dan tidak sah.
Mencegah sanksi
Dari Jerman, juru runding nuklir Iran Ali Larjani mengatakan, Iran siap kembali ke meja perundingan. "Kehendak
politik Iran adalah sebuah perundingan atas kasus ini. Kami tidak ingin memperburuk situasi di kawasan kami," katanya dalam
sebuah pertemuan dengan pejabat keamanan tingkat tinggi dari berbagai negara.
Larijani juga mengatakan, Iran tidak memiliki keinginan agresif kepada negara lain. "Kami tidak mengancam
siapa pun, dan jika kami melakukan riset dan pengembangan nuklir, kami tidak mengancam Israel," katanya.
Larijani mengatakan telah mengirim surat kepada Mohamed ElBaradei, pemimpin IAEA, dan mengungkapkan bahwa
Iran siap bekerja sama untuk menyelesaikan persoalan nuklir Iran dalam tiga minggu.
Pembicaraan antara Iran, tiga negara Eropa, dan IAEA tahun lalu mengalami kegagalan sehingga PBB menjatuhkan
sanksi terbatas kepada Iran karena gagal menghentikan program pengayaan uranium.
"Kami mengerti bahwa persoalan ini bisa diselesaikan melalui dialog konstruktif dan kami menyambut baik dialog
itu," kata Larijani.
IAEA, Jumat lalu, menangguhkan sebagian bantuan teknis bagi Iran, sebuah "simbol hukuman" atas penolakan Iran
untuk mematuhi resolusi DK PBB. Selama ini Iran memperoleh bantuan teknis IAEA untuk 15 proyek dalam negeri dan 40 proyek
bersama negara lain.
Iran juga mengharapkan Rusia mampu mencegah Dewan Keamanan PBB merumuskan resolusi baru menyusul habisnya
tenggat waktu bagi Iran untuk menghentikan program nuklir.
"Kami berharap Moskwa akan melakukan yang terbaik untuk mencegah penyusunan resolusi baru untuk menghukum
Iran," kata Ali Akbar Velayati, penasihat senior Khamenei, seperti dikutip kantor berita IRNA, Minggu.
"Kami memahami keterbatasan mereka, tetapi kami tetap berharap," kata Velayati, yang telah berbicara dengan
Presiden Rusia Vladimir Putin awal pekan ini. Rusia merupakan sekutu dekat Iran dan membangun pembangkit tenaga nuklir di
Iran, serta menyuplai teknologi pertahanan yang canggih kepada Iran.
Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris, Perancis dan Jerman, menginginkan Iran menghentikan program pengayaan
uranium, namun pendekatan masing-masing negara berbeda. (AP/AFP/REUTERS/FRO)